Sambungan.. Umair bin Sa'ad..Sahabat Rasulullah..

لَكَمْ وَدِدْتُ أَنَّ لِيْ رِجَالًا مِثْلَ عُمَيْرِ بْنِ سَعْدِ لَأَسْتَعِيْنَ بِهِمْ فِيْ أَعْمَالِ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sungguh aku sering berharap mempunyai orang-orang yang seperti ‘Umair bin Sa’ad untuk aku minta bantuannya melakukan kerja-kerja umat Islam”.

(Umar ibnul Khoththob)

B

eberapa waktu yang lalu kita sudah selesai menelusuri sebuah kisah yang sangat menganggumkan dari kehidupan seorang sahabat yang mulia ‘Umair bin Sa’ad dimasa kecilnya. Sekarang mari kita telusuri kisah lainnya dari perjalanan hidupnya ketika dewasa. Anda akan melihat bahwa kisahnya yang kedua ini tidak kalah menarik dan mengagumkan dari kisahnya yang pertama.

Masyarakat Himsh (sebuah kota di Suriah antara Damaskus dan Halab. Di koata itu Kholid bin Walid-Rodhiyallohu ‘anhu- di makamkan) adalah masyarakat yang sangat berani mengkritik para pemimpin (gabenor) mereka dan sering mengeluh atas kerja mereka. Tidak ada satupun gabenor yang memimpin mereka melainkan mereka dapatkan kekurangannya yang banyak dalam kepemimpinannya. Bahkan mereka mencatat dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh para gabenor yang kemudian mereka adukan kepada Kholifah menggantikan gabenor mereka dengan orang yang lebih baik..

Maka ‘Umar Al Faruq berazam (bertekad) untuk mengutus seseorang yang akan menjadi gabenor bagi mereka yang mereka tidak akan menemukan lagi aib dan kekurangan dalam keperibadiannya. Umar mengumpulkan beberapa nama orang-orang yang kemudian memilih-milihnya menjadi satu persatu. Dan ia tidak menemukan orang yang lebih baik dari ‘Umair bin Sa’ad.

Sekalipun ‘Umair ketika itu sedang berada di tanah jazirah yang berada diwilayah Syam sebagai panglima pasukannya yang tengah berperang dijalan Alloh, membebaskan kota-kota, menghancurkan benteng-benteng musuh , menaklukkan kabilah-kabilah dan mendirikan masjid-masjid di setiap daerah yang di taklukki, Amirul Mu’minin Umar ibnul Khoththob tetap memanggil ‘Umair bin Sa’ad dan memberikan mandat kepadanya untuk menjadi gabenor di Himsh. Umar memerintahkannya untuk pergi menuju Himsh. ‘Umair menerima keputusa itu dengan sedikit rasa kecewa karena baginya tidak ada yang ia anggap lebih utama daripada jihad dijalan Alloh.

‘Umair sampai di Himsh. Ia memanggil masyarakat yang tinggal disana untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Setelah selesai sholat ia berpidato di hadapan mereka. Ia awali dengan memuji Alloh and berselawat kepada Rosululloh saw., kemudian ia berkata, “wahai sekalian manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng yang kuat dan kokoh. Benteng Islam adalah keadilan dan pintunya adalah kebenaran. Jika benteng dihancurkan dan pintu dirosakkan., maka batas agama ini akan dilanggar. Sesungguhnya Islam itu akan kuat selama orang yang menjadi penguasa itu kuat dan kuatnya penguasa bukan dengan kuatnya cambuk,bukan juga dengan pedang yang digunakan untu membunuh, tetapi kuatnya penguasa adalah dengan menerapkan hukum yang adil dan membela kebenaran.”

Kemudian ia mulai bekerja untuk merealisasikan program yang telah ia canangkan dalam pidato singkatnya.

Setahun sudah ‘Umair tinggal di Himsh. Selama itu tidak ada satupun surat yang dilayangkan kepada ‘Amirul Mu’minin dan tidak satu dirham atau dinarpun dari harata fa’i yang dikirim ke baitul maal. Maka rasa khawatir mulai masuk kedalam hati Umar, karena ia adalah orang yang sangat takut kalau ada sekiranya dari para gabenornya yang tergoda oleh fitnah kekuasaan.

Baginya tidak ada yang ma’shum selain Rosululloh saw. Untuk itu ia berkata kepada sekretarisnya, “tulislah surat untuk ‘Umair bin Sa’ad dan katakan padanya, ‘jika surat ‘Amirul Mu’minin telah sampai kepadamu, maka tinggalkanlah Himsh, menghadaplah kepadanya dan bawalah bersamamu harta fa’i yang telah kamu tarik dari masyarakat.”

‘Umair bin Sa’ad menerima surat Umar. Ia langsung mengambil tempat makanannya, membawa wadah yang biasa ia gunakan untuk makan di pundaknya, membawa bejana yang ia gunakan untuk berwudhu, dan memegang tas perbekalannya dengan tangannya. Ia tinggalkan Himsh dan kekuasaannya. Ia pergi menuju Madinah dengan berjalan kaki. Sesampainya ia di Madinah, berubahlah warna kulitnya. Tubuhnya menjadi kurus. Rambutnya memanjang dan tampak darinya bekas-bekas keletihan dan kesulitan ketika dalam perjalanan.

‘Umair masuk menemui ‘Amirul Mu’minin, Umar ibnul Khoththob. Umar yang bergelar Al Faruq sangat terkejut melihat keadaannya. Ia bertanya, kenapa dengan engkau wahai ‘Umair?”

‘Umair menjawab, “Tidak ada yang terjadi dengan diriku wahai ‘Amirul Mu’minin. Alhamdulillah, aku sehat wal ‘afiat. Aku membawa seluruh dunia dan aku menariknya dari kedua tandukku” (maksudnya kekuasaan).

Umar bertanya, “apa yang engkau bawa dari dunia?” (ia menyangka bahwa ‘Umair membawa harta yang akan diserahkan ke baitul maal).

Ia menjawab, “yang ada padaku adalah tempat makananku. Di dalamnya kuletakkan perbekalanku. Aku membawa wadah untuk makan, untuk membasuh kepala, dan mencuci pakaian. Aku juga membawa gelas yang aku gunakan untuk berwudhu dan minum. Wahai ‘Amirul mu’minin sesungguhnya seluruh harta dunia ini mengikuti barang-barangku ini dan merupakan harta yang tidak aku perlukandan juga orang lain tidak memerlukannya.”

Umar bertanya, “apakah engakau datang dengan berjalan kaki”, “ya”, jawab ‘Umair.

Apakah engkau tidak diberi haiwan tunggangan yang bisa engkau naiki oleh kekuasaan?” Tanya umar.

‘Umair menjawab, “mereka tidak memberikannya kepadaku dan akupun tidak memintanya kepada mereka.”

“Apa yang engkau bawa untuk baitul maal” Tanya Umar.

“aku tidak membawa apa-apa untuk baitul maal,” jawab ‘Umair

“kenapa”

“Ketika aku sampai di Himsh, aku kumpulkan orang-orang sholih dari masyarakat yang tinggal disana. Aku beri mandat kepada mereka untuk mengumpulkan harta fa’i. ketika mereka telah mengumpulkan harata ‘fa’i, aku ajak mereka bermusyawarah untuk membahas harta tersebut. Aku letakkan harta-harta tersebut di pos-posnya dan aku berikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dari kalangan mereka.”

Mendengar itu ‘Umar langsung berkata kepada sekretarisnya, “perbaharuilah mandat tugas sebagai gabenor Himsh untuk ‘Umair!”.

‘Umair berkata, “tidak mungkin!, itu adalah sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku tidak akan bekerja lagi untuk engkau dan juga kholifah sesudah engkau, wahai ‘Amirul Mu’minin.”

Kemudian ia meminta izin kepada Umar untuk pergi ke sebuah kampung di pinggiran Madinah dan akan tinggal disana bersama keluarganya. Maka Umar mengizinkannya.

Belum lama berlalu setelah kepergian ‘Umair ke kampung yang ia tuju, muncul dalam hati Umar keinginan untuk menguji sahabatnya itu dan melihat kebenarannya. Maka ia berkata kepada salah seorang kepercayaannya yang dikenal dengan nama Harits, “pergilah engkau wahai Harits, ke rumah ‘Umair bin Sa’ad dan singgahlah seakan-akan engkau seorang tamu. Jika engaku melihat ada bekas-bekas nikmat yang terdapat pada dirinya, kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engaku melihat keadaanya yang sangat menderita, berikanlah dinar-dinar ini kepadanya.” Umar memberikan satu kantong wang berisi seratus dinar.

Harits akhirnya pergi menuju kampung tempat ‘Umair tinggal. Setibanya disana, ia menanyakan letak kediamannya kepada penduduk setempat. Ia diberi tahu dan setelah itu ia segera menuju rumahnya. Ketika bertemu dengan ‘Umair, Harits mengucapkan salam, “Assalamu’alaika wa rohmatulloh.”

‘Umair menjawab, “wa’alaikas salam wa rohmatulloh wa barokatuh. Berasal dari manakah engkau?”

Ia menjawab, “dari Madinah”

“Bagaimana keadaan umat Islam disana?” Tanya ‘Umair

“Mereka dalam keadaan baik, “ jawab Harits

“Bagaimana keadan ‘Amirul Mu’minin?”

“Ia dalam keadaan sehat dan sholih”

“Tidakkah ia menerapkan hukuman hudud?”, Tanya ‘Umair lagi.

“Ya, bahkan ia pernah menjatuhkan hukuman cambuk kepada anaknya yang berbuat fahisyah (keji).”

‘Umair berkata, “ya Alloh tolonglah Umar, karena sesungguhnya tidak ada yang aku ketahui tentang dirinya kecuali bahwasanya ia sangat mencintai-Mu.”

Harits tinggal di rumah ‘Umair bin Sa’ad selama tiga malam. Setiap malam ia selalu memberikan sepotong roti kepadanya. Pada hari ketiga, ada seorang penduduk yang berkata kepadanya, “engkau telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya. Mereka itu tidak memiliki apa selain sepotong roti yang mereka berikan kepadamu. Mereka mementingkan dirimu daripada diri mereka sendiri sehingga mereka kelaparan dan menjadi susah. Jika engkau mahu, pindahlah ketempatku….”

Ketika itulah Harits mengeluarkan beberapa wang dinar dan menyerahkannya kepada ‘Umair. ‘Umair bertanya, “apakah ini?”

Harits menjawab, “‘Amirul mu’mininin mengirimkan wang dinar ini kepada engkau.”

“Kembalikanlah wang ini dan sampaikan salamku padanya. Katakan padanya bahawa ‘Umair tidak memerlukannya.”

Ketika itu istri ‘Umair mendengar percakapan yang berlangsung antara suaminya dan tamunya. Maka, ia langsung berteriak dan berkata, “ambillah wang itu, wahai ‘Umair! Jika engaku memerlukannya, engkau bisa membelanjakannya, dan jika engaku tidak memerlukannya, engaku bisa menyalurkannya ke tempat penyalurannya. Disini masih banyak orang yang memerlukannya.”

Setelah mendengar perkataan istri ‘Umair, Harits langsung meletakkan wang dinar itu ke hadapan ‘Umair dan setelah itu ia langsung pergi. ‘Umair mengambil wang tersebut dan segera meletakkanya kedalam kantong-kantong kecil. Sebelum ia tidur pada malam itu, ia sudah membagi-bagikan wang tersebut kepada orang yang memerlukannya, terutama anak-anak yang orang tuanya syahid.

Harits kembali ke Madinah. Setibanya disana ia langsung ditanya oleh Umar, “apa yang engkau lihat wahai Harits?”

Harits menjawab, “keadan yang susah wahai ‘Amirul Mu’minin”

“Apakah engaku memberikannya wang dinar?” tanya Umar.

“ya” jawab Harits

“Apa yang ia lakukan dengan wang itu?”tanyanya lagi

“Aku tidak tahu. Mungkin ia tidak menyisakan satu dirhampun untuk dirinya.”

Maka Al Faruq mengirim surat kepada ‘Umair. Ia berkata, “jika engkau menerima suratku ini, jangan engaku letakkan dari tanganmu sampai engaku menghadap kepadaku.”

‘Umair bin Sa’ad pergi menuju Madinah. Setibanya disana ia langsung bertemu ‘Amirul Mu’minin. Umar menyambutnya dengan memberikan salam dan mempersilakannya duduk di dekatnya. Ia bertanya kepada ‘Umair, “apa yang engkau lakukan dengan wang dinar yang engkau dapat, wahai ‘Umair?”

‘Umair berkata, “apa kepentinganmu menanyakan wang itu setelah engkau keluarkan untukku wahai Umar?”

Umar menjawab, “aku hanya sangat menginginkan engaku menceritakan kepadaku apa yang engkau lakukan terhadap wang itu.”

‘Umair berkata, “aku menabung wang itu untukku agar aku bisa mengambil manfaatnya pada hari yang tidak berguna harta dan anak keturunan.”

Mendengar itu meneteslah air mata Umar. Lalu ia berkata, “aku bersakasi bahwa engaku adalah orang yang mmentingkan kepentingan orang lain daripada diri mereka sendiri sekalipun mereka sangat membutuhkan…”, kemudian Umarr memberikan satu wasaq makanan (60 sha’)dan dua helai pakaian.

‘Umair berkata, “wahai ‘Amirul Mu’minin makanan ini aku tidak membutuhkannya. Aku telah meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluargaku. Ketika kami menghabiskannya, Alloh akan memberi kami rezeki lagi. Adapun dua helai pakaian ini, aku akan mengambilnya untuk ibunya anak-anak (istrinya) karena pakaiannya sudah usang bahkan hampir telanjang.

Tidak lama setelah perjumpaan yang terjadi antara Al Faruq dengan sahabatnya ini, Alloh I mengizinkan ‘Umair bin Sa’ad untuk bertemiu dengan Nabi-Nya dan penyejuk matanya, Muhammad bin Abdulloh saw setelah sekian lama ia merindukan perjumpaan dengannya. ‘Umair telah kembali ke negeri akhirat dengan jiwa yang tenang dan langkah yang pasti. Tidak ada beban dunia yang memberatkan pundaknya dan tidak ada tanggung jawab yang berat yang membebani punggungnya. Ia pergi hanya dengan cahayanya, hidayahnya, kewara’annya, dan ketaqwaannya.

Ketika berita kematiannya sampai kepada Umar, kesedihan menutupi wajahnya dan menggerus hatinya, ia berkata,

لَكَمْ وَدِدْتُ أَنَّ لِيْ رِجَالًا مِثْلَ عُمَيْرِ بْنِ سَعْدِ لَأَسْتَعِيْنَ بِهِمْ فِيْ أَعْمَالِ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sungguh aku sering berharap mempunyai orang-orang yang seperti ‘Umair bin Sa’ad untuk aku minta bantuannya melakukan kerja-kerja umat Islam”.

Semoga Alloh meridhoi ‘Umair bin Sa’ad. Ia adalah sosok yang memiliki kepribadian unik diantara sahabat-sahabatnya. Ia adalah murid unggulan di madrasah Muhammad bin ‘Abdillah r.

[Shuwar min Hayatish Shohabah, Dr. Abdur Rohman Ro’fat Al Basya]


2 comments:

Blog anda telah tersenarai di e-Direktori Bloggers Malaysia

Anda dipelawa untuk menggunakan logo e-Direktori di blog anda.

Anda juga dipelawa mendaftar sebagai "Followers" untuk memudahkan saya menjejaki bloggers kenalan anda.

Sekian dan terima kasih!

 

Post a Comment